:) (2)

Hallo malam.
Sedang apa?
Apa saya mengganggu kesunyian?

Hari ini saya senang. Senang sekali.
Entah apapun sebabnya; tidak perlu tahu.

Kali ini, dunia milik saya.

Sadly, I still think of you

Six word story #29 (via bl-ossomed)

(Source: spoopy-butsassy, via summer-boys-romance)

Saat ini pun aku masih berpikir bagaimana bisa kau menyelinap dalam setiap waktu dipikiranku

ellaintanaa (via ellaintanaa)

Aku ingin menyapa mu dengan tawa ria agar tak terlihat betapa menangisnya hatiku saat ku berjumpa denganmu.

ellaintanaa (via ellaintanaa)

:)

Selamat malam; bintang.

Pukul 8 malam sudah mulai sunyi. Tak ada hentakan dan ketukan di sudut kamar.
Suara denting piringpun menggema seluruh ruang kelam.

Apa kabar pria? Seorang wanita bertanya, tidak ada satupun suara balasan.
Matanya mulai senyap menahan kantuk.
Terlelap dalam bayang sendu beruraikan tetesan air kejujuran di pipinya.

Pria ini terlalu cepat datang di kehidupan sang wanita yang menyebabkan tanya;

Apa maksud dan tujuan Anda di kehidupan saya?
Mengapa anda menghantui pikiran saya?
Saya sudah cukup mengagumi anda, cukup. Ya, sangat cukup.

Anda, Pria itu.—

Aku bukanlah matahari yang dapat menyinari dari pagi hingga senja. Bukan pula bulan yang menjaga saat kau terlelap dalam gelap. Bisakah kau memandangku sebagai apa adanya aku ? Bukan dia , bukan mereka

ellaintanaa (via ellaintanaa)

Hati-hati dengan hati. Hati yang pernah terluka akan sangat peka. Hati yang belum tersentuh mungkin tak kan merasa. Sedangkan hati yang terlanjur patah dan hancur tak kan mau merasa. Namun hati yang tulus, berhati - hatilah hati itu suci, tak pantas kau gores luka.

ellaintanaa (via ellaintanaa)

karena yang mencintai dengan tulus lah yang akan bertahan.

4-2-14 (via estehmanistanpagula)
Mulai memasuki rutinitas seperti biasa.
Bosan; pukul 7 sudah bergegas masuk ke gerbang dimana disitulah cita-cita saya semakin dekat untuk di capai.

Teman-teman yang menyambut pagi saya dengan sapaan; Ada PR apa hari ini?. Sudah terbiasa.

Langkah terakhir yang mendebrak pintu kelas bagi saya adalah langkah dimana rasa kantuk saya semakin menjadi-jadi.
Saya tidak malas, saya hanya merasa bosan. Baca baik-baik, saya tidak malas.

Permen di mulut merupakan alasan supaya kita keluar kelas.
Tidak mengerjakan PR merupakan alasan kita pergi ke kantin sekolah.

Kami anak muda yang merasa bosan dengan cara belajar seperti ini, Pak Bu.
Mohon perhatiannya.

Doakan, besok waktunya saya berhadapan dengan hari yang indah.

Mulai memasuki rutinitas seperti biasa.
Bosan; pukul 7 sudah bergegas masuk ke gerbang dimana disitulah cita-cita saya semakin dekat untuk di capai.

Teman-teman yang menyambut pagi saya dengan sapaan; Ada PR apa hari ini?. Sudah terbiasa.

Langkah terakhir yang mendebrak pintu kelas bagi saya adalah langkah dimana rasa kantuk saya semakin menjadi-jadi.
Saya tidak malas, saya hanya merasa bosan. Baca baik-baik, saya tidak malas.

Permen di mulut merupakan alasan supaya kita keluar kelas.
Tidak mengerjakan PR merupakan alasan kita pergi ke kantin sekolah.

Kami anak muda yang merasa bosan dengan cara belajar seperti ini, Pak Bu.
Mohon perhatiannya.

Doakan, besok waktunya saya berhadapan dengan hari yang indah.

Berjalan dengan empat kaki terasa lebih indah bila dibandingkan berjalan hanya dengan dua kaki.

Siapa sanggup menemani, dialah juaranya.

Kantuk mulai terasa. Dingin mulai menusuk tulang dan membelai kulit. 
Kaki saling bertumpu, mata tidak lelah melihat air jatuh yang menempel di kaca yang tak jarang mengalir, telinga tidak bosan mendengar gemuruh dan riuh rendah suara rintikan air di atap mobil.

Hari ini, saya merasa dingin.
Seluruh wajah terasa kaku. 
Hanya bisa tersenyum mendengar celotehan pria di samping saya, katanya; Langit sedang menangis melihatmu muram hari ini. Ayo tersenyum! Sudah kuantar pulang hari ini. 

Saya tidak mau pulang.
Sekali lagi, saya tidak mau pulang.
Saya merasa hangat dan nyaman disini. Entah karena pria ini atau suasananya atau tempatnya.
Saya nyaman dan sangat nyaman.

Saya rindu pria ini memainkan rambut saya seiring saya hampir terpejap.
Saya rindu pria ini mengingatkan saya memakai sabuk pengaman di mobil.
Saya rindu pria ini membeli makan siang untuk saya dan di taruhnya di jok mobil dimana saya akan duduk.

Saya rindu; Hujan dan Pria ini.

Kantuk mulai terasa. Dingin mulai menusuk tulang dan membelai kulit.
Kaki saling bertumpu, mata tidak lelah melihat air jatuh yang menempel di kaca yang tak jarang mengalir, telinga tidak bosan mendengar gemuruh dan riuh rendah suara rintikan air di atap mobil.

Hari ini, saya merasa dingin.
Seluruh wajah terasa kaku.
Hanya bisa tersenyum mendengar celotehan pria di samping saya, katanya; Langit sedang menangis melihatmu muram hari ini. Ayo tersenyum! Sudah kuantar pulang hari ini.

Saya tidak mau pulang.
Sekali lagi, saya tidak mau pulang.
Saya merasa hangat dan nyaman disini. Entah karena pria ini atau suasananya atau tempatnya.
Saya nyaman dan sangat nyaman.

Saya rindu pria ini memainkan rambut saya seiring saya hampir terpejap.
Saya rindu pria ini mengingatkan saya memakai sabuk pengaman di mobil.
Saya rindu pria ini membeli makan siang untuk saya dan di taruhnya di jok mobil dimana saya akan duduk.

Saya rindu; Hujan dan Pria ini.

Belum 24 jam. Saya merindukan hal ini lagi. #KampoengJazz menghadirkan penyanyi yang saya banggakan.

TULUS. Tuhan terimakasih. Dia kemarin menjamah tangan saya. Sungguh ini bukan mimpi.

Flash di polaroid saya mengkerlip dan berhenti sekejap. Saya kira ini ilusi.

Tepat di saat hari buruk menyerang, ada banyak hari baik yang menunggu giliran.

(via palawija)

These are heavy times, but hopefully the music is gonna get us through.

John Mayer (via findabeautifulmind)

Lachen ist nicht das gleiche wie glücklich sein.

no, you.

(Source: la-vie-de-navi)